bandarq Dominoqq Bandarkiu Domino99
Aseangol
Home » ABG » Cerita Sex Ngentot Memek Perawan

Cerita Sex Ngentot Memek Perawan

Cerita Sex Ngentot Memek Perawan

Cerita Sex Ngentot Memek Perawan
Cerita Sex Ngentot Memek Perawan

Cerita Sex– Dia adalah anak bungsu dari lima bersaudara, ayahnya adalah seorang pejabat yang kini bersama ibunya tengah bertugas di ibukota, sedang kakak-kakaknya tinggal di berbagai kota di pulau jawa ini karena keperluan pekerjaan atau kuliah. Maka tinggallah Indah seorang diri di rumah tersebut, terkadang dia juga ditemani oleh sepupunya yang mahasiswi dari sebuah universitas negeri ternama di kota itu.

Sebagai anak ABG yang mengikuti trend masa kini, Indah sangat gemar memakai pakaian yang serba ketat termasuk juga seragam sekolah yang dikenakannya sehari-hari. Rok abu-abu yang tingginya beberapa senti di atas lutut sudah cukup menyingkapkan kedua pahanya yang putih mulus, dan ukuran roknya yang ketat itu juga memperlihatkan lekuk body tubuhnya yang sekal menggairahkan.

Penampilannya yang aduhai ini tentu mengundang pikiran buruk para laki-laki, dari yang sekedar menikmati kemolekan tubuhnya sampai yang berhasrat ingin menggagahinya. Salah satunya adalah Hendro, si tukang becak yang mangkal di depan gang rumah Indah. Hendro, pria berusia 40 tahunan itu, memang seorang pria yang berlibido tinggi, birahinya sering naik tak terkendali apabila melihat gadis-gadis cantik dan seksi melintas di hadapannya.

Sosok pribadi Indah memang cukup supel dalam bergaul dan sedikit genit termasuk kepada Hendro yang sering mengantarkan Indah dari jalan besar menuju ke kediaman Indah yang masuk ke dalam gang.

Suatu sore, Indah pulang dari sekolah. Seperti biasa Hendro mengantarnya dari jalan raya menuju ke rumah. Sore itu suasana agak mendung dan hujan rintik-rintik, keadaan di sekitar juga sepi, maklumlah daerah itu berada di pinggiran kota YK. Dan Hendro memutuskan saat inilah kesempatan terbaiknya untuk melampiaskan hasrat birahinya kepada Indah. Ia telah mempersiapkan segalanya, termasuk lokasi tempat dimana Indah nanti akan dikerjai. Hendro sengaja mengambil jalan memutar lewat jalan yang lebih sepi, jalurnya agak jauh dari jalur yang dilewati sehari-hari karena jalannya memutar melewati areal pekuburan.

“Lho koq lewat sini Pak?”, tanya Indah.

“Di depan ada kawinan, jadi jalannya ditutup”, bujuk Hendro sambil terus mengayuh becaknya. Dengan sedikit kesal Indah pun terpaksa mengikuti kemauan Hendro yang mulai mengayuh becaknya agak cepat. Setelah sampai pada lokasi yang telah direncanakan Hendro, yaitu di sebuah bangunan tua di tengah areal pekuburan, tiba-tiba Hendro membelokkan becaknya masuk ke dalam gedung tua itu.

“Lho kenapa masuk sini Pak?”, tanya Indah.

“Hujan..”, jawab Hendro sambil menghentikan becaknya tepat di tengah-tengah bangunan kuno yang gelap dan sepi itu. Dan memang hujan pun sudah turun dengan derasnya.

Bangunan tersebut adalah bekas pabrik tebu yang dibangun pada jaman belanda dan sekarang sudah tidak dipakai lagi, paling-paling sesekali dipakai untuk gudang warga. Keadaan seperti ini membuat Indah menjadi semakin panik, wajahnya mulai terlihat was-was dan gelisah.

“Tenang.. Tenang.. Kita santai dulu di sini, daripada basah-basahan sama air hujan mending kita basah-basahan keringat..”, ujar Hendro sambil menyeringai turun dari tempat kemudi becaknya dan menghampiri Indah yang masih duduk di dalam becak.

Bagai tersambar petir Indah pun kaget mendengar ucapan Hendro tadi.

“A.. Apa maksudnya Pak?”, tanya Indah sambil terbengong-bengong.

“Non cantik, kamu mau ini?” Hendro tiba-tiba menurunkan celana komprangnya, mengeluarkan penisnya yang telah mengeras dan membesar.

Indah terkejut setengah mati dan tubuhnya seketika lemas ketika melihat pemandangan yang belum pernah dia lihat selama ini.

“J.. Jaangan Pak.. Jangann..” pinta Indah dengan wajah yang memucat.

Sejenak Hendro menatap tubuh Indah yang menggairahkan, dengan posisinya yang duduk itu tersingkaplah dari balik rok abu-abu seragam SMU-nya kedua paha Indah yang putih bersih itu. Kaos kaki putih setinggi betis menambah keindahan kaki gadis itu. Dan di bagian atasnya, kedua buah dada ranum nampak menonjol dari balik baju putih seragamnya yang berukuran ketat.

“Ampunn Pak.. Jangan Pak..”, Indah mulai menangis dalam posisi duduknya sambil merapatkan badan ke sandaran becak, seolah ingin menjaga jarak dengan Hendro yang semakin mendekati tubuhnya. Tubuh Indah mulai menggigil namun bukan karena dinginnya udara saat itu, tetapi tatkala dirasakannya sepasang tangan yang kasar mulai menyentuh pahanya. Tangannya secara refleks berusaha menampik tangan Hendro yang mulai menjamah paha Indah, tapi percuma saja karena kedua tangan Hendro dengan kuatnya memegang kedua paha Indah.

“Oohh.. Jangann.. Pak.. Tolongg.. Jangann..”, Indah meronta-ronta dengan menggerak-gerakkan kedua kakinya. Akan tetapi Hendro malahan semakin menjadi-jadi, dicengkeramnya erat-erat kedua paha Indah itu sambil merapatkan badannya ke tubuh Indah.

Indah pun menjadi mati kutu sementara isak tangisnya menggema di dalam ruangan yang mulai gelap dan sepi itu. Kedua tangan kasar Hendro mulai bergerak mengurut kedua paha mulus itu hingga menyentuh pangkal paha Indah. Tubuh Indah menggeliat ketika tangan-tangan Hendro mulai menggerayangi bagian pangkal paha Indah, dan wajah Indah menyeringai ketika jari-jemari Hendro mulai menyusup masuk ke dalam celana dalamnya.

“Iihh..”, pekikan Indah kembali menggema di ruangan itu di saat jari Hendro ada yang masuk ke dalam liang vaginanya. Tubuh Indah menggeliat kencang di saat jari itu mulai mengorek-ngorek lubang kewanitaannya. Desah nafas Hendro semakin kencang, dia nampak sangat menikmati adegan ‘pembuka’ ini. Ditatapnya wajah Indah yang megap-megap dengan tubuh yang menggeliat-geliat akibat jari tengah Hendro yang menari-nari di dalam lubang kemaluannya. “Cep.. Cep.. Cep..”, terdengar suara dari bagian selangkangan Indah. Saat ini lubang kemaluan Indah telah banjir oleh cairan kemaluannya yang mengucur membasahi selangkangan dan jari-jari Hendro.

Puas dengan adegan ‘pembuka’ ini, Hendro mencabut jarinya dari lubang kemaluan Indah. Indah nampak terengah-engah, air matanya juga meleleh membasahi pipinya. Hendro kemudian menarik tubuh Indah turun dari becak, gadis itu dipeluknya erat-erat, kedua tangannya meremas-remas pantat gadis itu yang sintal sementara Indah hanya bisa terdiam pasrah, detak jantungnya terasa di sekujur tubuhnya yang gemetaran itu. Hendro juga menikmati wanginya tubuh Indah sambil terus meremas remas pantat gadis itu.

Selanjutnya Hendro mulai menikmati bibir Indah yang tebal dan sensual itu, dikulumnya bibir itu dengan rakus bak seseorang yang tengah kelaparan melahap makanan.

“Eemmgghh.. Mmpphh..”, Indah mendesah-desah di saat Hendro melumat bibirnya. Dikulum-kulum, digigit-gigitnya bibir Indah oleh gigi dan bibir Hendro yang kasar dan bau rokok itu. Ciuman Hendro pun bergeser ke bagian leher gadis itu.

“Oohh.. Eenngghh..”, Indah mengerang-ngerang di saat lehernya dikecup dan dihisap-hisap oleh Hendro.

Cengkeraman Hendro di tubuh Indah cukup kuat sehingga membuat Indah sulit bernafas apalagi bergerak, dan hal inilah yang membuat Indah pasrah di hadapan Hendro yang tengah memperkosanya. Setelah puas, kini kedua tangan kekar Hendro meraih kepala Indah dan menekan tubuh Indah ke bawah sehingga posisinya berlutut di hadapan tubuh Hendro yang berdiri tegak di hadapannya. Langsung saja oleh Hendro kepala Indah dihadapkan pada penisnya. “Ayo.. Jangan macam-macam non cantik.. Buka mulut kamu”, bentak Hendro sambil menjambak rambut Indah. Takut pada bentakan Hendro, Indah tak bisa menolak permintaannya. Sambil terisak-isak dia sedikit demi sedikit membuka mulutnya dan segera saja Hendro mendorong masuk penisnya ke dalam mulut Indah.

“Hmmphh..”, Indah mendesah lagi ketika benda menjijikkan itu masuk ke dalam mulutnya hingga pipi Indah menggelembung karena batang kemaluan Hendro yang menyumpalnya.

“Akhh..” sebaliknya Hendro mengerang nikmat. Kepalanya menengadah keatas merasakan hangat dan lembutnya rongga mulut Indah di sekujur batang kemaluannya yang menyumpal di mulut Indah. Indah menangis tak berdaya menahan gejolak nafsu Hendro. Sementara kedua tangan Hendro yang masih mencengkeram erat kepala Indah mulai menggerakkan kepala Indah maju mundur, mengocok penisnya dengan mulut Indah. Suara berdecak-decak dari liur Indah terdengar jelas diselingi batuk-batuk.

Beberapa menit lamanya Hendro melakukan hal itu kepada Indah, dia nampak benar-benar menikmati. Tiba-tiba badan Hendro mengejang, kedua tangannya menggerakkan kepala Indah semakin cepat sambil menjambak-jambak rambut Indah. Wajah Hendro menyeringai, mulutnya menganga, matanya terpejam erat dan.. “Aakkhh..”, Hendro melengking, croot.. croott.. crroott..

Seiring dengan muncratnya cairan putih kental dari kemaluan Hendro yang mengisi mulut Indah yang terkejut menerima muntahan cairan itu. Indah berusaha melepaskan batang penis Hendro dari dalam mulutnya namun sia-sia, tangan Hendro mencengkeram kuat kepala Indah. Sebagian besar sperma Hendro berhasil masuk memenuhi rongga mulut Indah dan mengalir masuk ke tenggorokannya serta sebagian lagi meleleh keluar dari sela-sela mulut Indah.

“Ahh”, sambil mendesah lega, Hendro mencabut batang kemaluannya dari mulut Indah.

Nampak batang penisnya basah oleh cairan sperma yang bercampur dengan air liur Indah. Demikian pula halnya dengan mulut Indah yang nampak basah oleh cairan yang sama. Indah meski masih dalam posisi terpaku berlutut, namun tubuhnya juga lemas dan shock setelah diperlakukan Hendro seperti itu.

“Sudah Pak.. Sudahh..” Indah menangis sesenggukan, terengah-engah mencoba untuk ‘bernego’ dengan Hendro yang sambil mengatur nafas berdiri dengan gagahnya di hadapan Indah. Nafsu birahi yang masih memuncak dalam diri Hendro membuat tenaganya menjadi kuat berlipat-lipat kali, apalagi dia telah menenggak jamu super kuat demi kelancaran hajatnya ini sebelumnya. Setelah berejakulasi tadi, tak lama kemudian nafsunya kembali bergejolak hingga batang kemaluannya kembali mengacung keras siap menerkam mangsa lagi.

Hendro kemudian memegang tubuh Indah yang masih menangis terisak-isak. Indah sadar akan apa yang sebentar lagi terjadi kepadanya yaitu sesuatu yang lebih mengerikan. Badan Indah bergetar ketika Hendro menidurkan tubuh Indah di lantai gudang yang kotor itu, Indah yang mentalnya sudah jatuh seolah tersihir mengikuti arahan Hendro. Setelah Indah terbaring, Hendro menyingkapkan rok abu-abu seragam SMU Indah hingga setinggi pinggang. Kemudian dengan gerakan perlahan, Hendro memerosotkan celana dalam putih yang masih menutupi selangkangan Indah. Kedua mata Hendro pun melotot tajam ke arah kemaluan Indah. Kemaluan yang merangsang, ditumbuhi rambut yang tidak begitu banyak tapi rapi menutupi bibir vaginanya, indah sekali.

Hendro langsung saja mengarahkan batang penisnya ke bibir vagina Indah. Indah menjerit ketika Hendro mulai menekan pinggulnya dengan keras, batang penisnya yang panjang dan besar masuk dengan paksa ke dalam liang vagina Indah. “Aakkhh..”, Indah menjerit lagi, tubuhnya menggelepar mengejang dan wajahnya meringis menahan rasa pedih di selangkangannya. Kedua tangan Indah ditekannya di atas kepala, sementara ia dengan sekuat tenaga melesakkan batang kemaluannya di vagina Indah dengan kasar dan bersemangat.

“Aaiihh..”, Indah melengking keras disaat dinding keperawanannya berhasil ditembus oleh batang penis Hendro. Darah pun mengucur dari sela-sela kemaluan Indah. “Ohhss.. Hhsshh.. Hhmmh.. Eehhghh..” Hendro mendesis nikmat. Setelah berhasil melesakkan batang kemaluannya itu, Hendro langsung menggenjot tubuh Indah dengan kasar. “Oohh.. Oogghh.. Oohh..”, Indah mengerang-ngerang kesakitan. Tubuhnya terguncang-guncang akibat gerakan Hendro yang keras dan kasar. Sementara Hendro yang tidak peduli terus menggenjot Indah dengan bernafsu. Batang penisnya basah kuyup oleh cairan vagina Indah yang mengalir deras bercampur darah keperawanannya.

Sekitar lima menit lamanya Hendro menggagahi Indah yang semakin kepayahan itu, sepertinya Hendro sangat menikmati setiap hentakan demi hentakan dalam menyetubuhi Indah, sampai akhirnya di menit ke-delapan, tubuh Hendro kembali mengejang keras, urat-uratnya menonjol keluar dari tubuhnya yang hitam kekar itu dan Hendro pun berejakulasi.

“Aahh..” Hendro memekik panjang melampiaskan rasa puasnya yang tiada tara dengan menumpahkan seluruh spermanya di dalam rongga kemaluan Indah yang tengah menggelepar kepayahan dan kehabisan tenaga karena tak sanggup lagi mengimbangi gerakan-gerakan Hendro.

Dan akhirnya kedua tubuh itu pun kemudian jatuh lunglai di lantai diiringi desahan nafas panjang yang terdengar dari mulut Hendro. Hendro puas sekali karena telah berhasil melaksanakan hajatnya yaitu memperkosa gadis cantik yang selama ini menghiasi pandangannya dan menggoda dirinya. Setelah rehat beberapa menit tepatnya menjelang Isya, akhirnya Hendro dengan becaknya kembali mengantarkan Indah yang kondisinya sudah lemah pulang ke rumahnya. Karena masih lemas dan akibat rasa sakit di selangkangannya, Indah tak mampu lagi berjalan normal hingga Hendro terpaksa menuntun gadis itu masuk ke dalam rumahnya.

Suasana di lingkungan rumah yang sepi membuat Hendro dengan leluasa menuntun tubuh lemah Indah hingga sampai ke teras rumah dan kemudian mendudukkannya di kursi teras. Setelah berbisik ke telinga Indah bahwa dia berjanji akan datang kembali untuk menikmati tubuhnya yang molek itu, Hendro pun kemudian meninggalkan Indah dengan mengayuh becaknya menghilang di kegelapan malam, meninggalkan Indah yang masih terduduk lemas di kursi teras rumahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *